Ketika mendengar kata perubahan, maka salah satu hal yang terbesit pada pikiran qt adalah beda, sesuatu yang beda, antara sebelum dan sesudahnya.Seperti yang sering qt liat di TV misalnya, suatu stasiun TV mengubah logonya agar bisa memberi image baru kepada penonton dan memberi suasana baru di hadapan pemirsa. Ataupun iklan2 yang menampilkan perubahan (inovasi, dsb) dari suatu produk, diharapkan dengan perubahan tersebut, akan semakin meningkatkan kualitasnya, dan tentunya agar bisa membidik konsumen lebih banyak.
Begitu pula ketika qt mendengar sesuatu/seseorang yang yang akan/telah berubah. Qt lebih cenderung berharap agar perubahan dimaksud adalah perubahan ke arah yang lebih baik dan positif. Saat melihat iklan sebuah sepeda motor yang memperkenalkan inovasi (perubahan) terbarunya misal, qt (konsumen) pasti tidak cuma menginginkan perubahan itu hanya pada tampilan luarnya saja, tapi juga menginginkan agar performa mesin lebih bagus dan lebih hemat bahan bakar pula. Saat mendengar teman qt yang sudah “berubah”, anggaplah si X yang tadinya malas2an dalam belajar/bekerja, tentu qt berharap agar dia berubah menjadi semakin rajin dalam belajar/bekerja, bukan sebaliknya. Bahkan kalo bisa, si X tadi menjadi salah satu bintang kelas atau menjadi pegawai yang cukup berperan dalam kemajuan perusahaan.
Namun terkadang, saat qt sudah berencana untuk melakukan perubahan, qt terlalu terburu-buru untuk sesegera mungkin menyandang kata perubahan, tanpa menyiapkan baik-baik diri qt maupun langkah-langkah yang akan qt tempuh untuk mewujudkan perubahan tersebut. Dan lebih buruknya, jika qt belum begitu siap akan perubahan itu, tapi orang lain sudah terlanjur mengetahui bahwa qt telah bermetamorfosis, telah berubah, akhirnya qt hanya melalukan perubahan dari segi luar, hanya tampilannya saja, topeng belaka, tanpa diimbangi dengan perubahan bagian dalam.
Sebuah produsen sepeda motor dengan penuh percaya diri menggembar-gemborkan produk “baru”nya yang katanya revolusi di dunia per-sepeda motor-an, dengan memamerkan sebuah sepeda motor dengan desain yang lebih futuristik. Padahal mesinnya masih sama ma produk2 sebelumnya. Atau malah lebih menurun ya??????
Seseorang yang tadinya telah memulai satu langkah menuju perubahan, ternyata pada langkah-langkah berikutnya timbul keraguan dan ketidaksiapan diri, serta kurang jelasnya rencana langkah2 selanjutnya yang akan ditempuh. Hasilnya, karena dia sudah terlanjur terkenal sebagai manusia yang sudah berubah, seekor ulat yang sudah melalui tahap2 kepompong sehingga sudah menjadi kupu-kupu yang indah, dia gengsi kalau sebenarnya apa yang dia lakukan masih jauh dari arti perubahan sebenarnya, satu langkah yang sudah dimulai masih harus dilanjutkan dengan beribu-ribu bahkan berjuta-juta langkah yang tentu tidak mudah untuk terus dilalui (dan terkadang terganggu oleh jalan yang tidak mulus dan kerikil2 kecil). Tapi dia malu jika orang lain mengetahui bahwa dia menyerah untuk terus melangkah dan ingin berbalik arah keluar dari ruang perubahan kembali menuju ruang awalnya, tempat dulu dia melewati perjalanan hidupnya. Dan yang terjadi, dia akan memakai sebuah “topeng perubahan” di hadapan orang lain, tapi dia akan melepas topengnya saat tidak bersama orang lain.
Pada akhirnya, topeng yang dia pakai pun akan dapat terlihat oleh orang lain. Topeng yang tadinya berhasil menutupi kebopengan mukanya, tak kuasa lagi menutupi wajah aslinya. Dan mereka akan sadar bahwa dia masihlah dia yang dahulu, masih seekor ulat yang gagal melalui tahap2 kepompong, sehingga tidak berhasil menjadi kupu2 yang indah. Terlebih Sang Maha Pencipta. Dia Sang Maha Tahu segala-galanya. tak ada satupun yang luput dari-Nya, bahkan walau hanya sebiji zarah.